02
Oktober
2026
Jumat - : WIB

Gastronomi Ternate: Aroma Masakan Leluhur di Cengkih Tertua Dunia

halmaheranesia
Oktober 28, 2024 pada Kabar Daerah
Beberapa bumbu masakan rimo-rimo yang ditaruh di atas meja bambu, di kawasan Cengkeh Afo, Kota Ternate, Maluku Utara. Foto (Andri R. Mansur/halmaheranesia)

Halmaheranesia – Cuaca tak begitu cerah pada Minggu pagi, 27 Oktober 2024. Seantero langit kota diselimuti awan hitam, dan saya bergegas menuju Kelurahan Tongole, Kota Ternate, Maluku Utara, tepatnya di lokasi Cengkeh Afo.

Pagi itu, saya sedang mengikuti kegiatan Inkubator Space bersama Komunitas Cengkeh Afo.

Inkubator Space merupakan salah satu komunitas yang bergerak pada isu kreatif kota, sementara Komunitas Cengkeh Afo fokusnya pada tradisi kuliner tradisional.

Kegiatan ini akan berlangsung selama tiga hari. Setelah dari Cengkeh Afo, selanjutnya dilaksanakan di Kelurahan Soa dan Salero, tepatnya di Kedaton Kesultanan Ternate. Di sana peserta akan belajar filosofi serta cara memasak makanan saro-saro, dan bagaimana prosesi jamuan adat.

***

Sebelum memulai, semua peserta yang sudah terdaftar harus terlebih dahulu melakukan registrasi. Setelah itu, panitia mengarahkan semua peserta di sebuah rumah bambu yang begitu sederhana.

Tak lama berselang, hujan mulai turun, menghantam rimbun daun cengkih dan atap rumah bambu itu, semilir angin bertiup pelan, aroma cengkih begitu kuat, seperti sedang memulangkan ingatan para peserta pada sebuah sejarah Cengkeh Afo, cengkih tertua yang menarik simpati bangsa eropa datang ke Maluku Utara.

Kawasan itu sejak lama terkenal dengan tiga pohon cengkih tertuanya. Melalui papan informasi yang ada di lokasi itu, pohon cengkih yang diperkirakan usia 416 tahun telah mati pada awal 2000. Satunya lagi juga sudah roboh pada Juli 2019, dan usianya diperkirakan 250 tahun.

Tersisa pohon cengkih tertua ketiga yang masih berdiri gagah tak jauh dari jalan utama. Usianya sekitar 200 tahun.

Koordinator kegiatan, Zandry Aldrin, mengatakan ini adalah kegiatan pekan merawat gastronomi lokal, kemudian mengundang 40 anak muda Kota Ternate, dengan metode pendaftaran melalui postingan media sosial.

“Tujuan dari kegiatan ini untuk mengenalkan gastronomi ke anak-anak muda, bahkan hampir semua peserta yang hadir baru pertama kali melihat, seperti apa dan bagaimana sajian kuliner rempah ini,” ucap Zandry.

Di sela-sela kegiatan dan riuhnya percakapan, lima perempuan paruh baya dan tiga gadis sedang sibuk menaruh menu lokal seperti kasbi (singkong), nasi jaha (nasi yang dimasak menggunakan bambu), dan beberapa kue, juga kopi serta teh rempah.

Setelah sesi diskusi selesai, peserta diarahkan ke dapur kecil milik Komunitas Cengkeh Afo. Workshop memasak pun dimulai. Kami lalu disuguhkan cara memasak kuliner tradisional menggunakan bambu.

 

Rimo-Rimo, Masakan Rempah Leluhur dari Ternate

Norma A. Badu dalam kesempatan itu menjelaskan, makanan tradisional ini biasa disebut rimo-rimo. Rimo-rimo merupakan masakan yang dimasak menggunakan bambu kemudian dibakar di atas tungku batu.

“Di sini semua makanan dimasak dengan cara tradisional, makanan seperti ikan rimo bumbu kuning, ayam rimo rempah, kasbi ngo (singkong yang dihaluskan dan dimasak dalam bambu), ikan tuna, cakalang asap, sayur lilin, serta pali-pali,” ujar Norma.

Selesai diperlihatkan proses memasak, saya pun diarahkan masuk di dapur tempat pembakaran masakan itu, Norma kemudian menjelaskan bumbu atau resep masakan ikan rimo dan ayam rimo rempah.

“Ikan rimo bumbu kuning dan ayam rimo rempah dimasak dengan bumbu yang kami tanam sendiri, semua dari hasil kebun. Campuran bumbunya menggunakan kunyit, jahe, bawang merah, dan bawang putih, daun bawang, daun pandan, daun lemon, patikala (kecombrang) dan kenari,” jelasnya.

Semua bumbu itu dibersihkan, kemudian dihaluskan, dimasukan ke dalam bambu bersamaan dengan ikan kerapu dan ayam yang sudah dipotong kecil-kecil, lalu dibakar di atas tungku, dibiarkan kurang lebih 40-60 menit.

“Selepas masak, masakan itu diangkat dari dapur ke meja makan menggunakan saloi (tas tradisional), di sini peralatan makan seperti piring, sendok, gelas, dan perlengkapan masakan rimo-rimo semua dibuat dari kayu, bambu, dan batok kelapa,” katanya.

Makanan rimo-rimo yang dihidangkan sepanjang meja di kawasan Cengkeh Afo, Tongole, Kota Ternate. Foto (Andri R. Mansur/halmaheranesia)

Pukul 12.00 siang, semua masakan sudah siap; di atas meja bambu panjang itu, aroma masakan rempah membuat semua peserta seperti tak sabar dan takjub.

Aromanya begitu magis, sungguh nikmat, apalagi menikmatinya di tengah rimbunnya Cengkeh Afo yang jauh dari sibuknya rutinitas kota.

Suasananya teduh, hening, kemudian diiringi dengan suara tifa, fiol, dan saragih (gong). Sungguh suasana yang jarang ditemukan di tengah sibuknya kota.

Sesudah makan, saya pun kembali menemui Norma, seorang perempuan yang dipercaya sebagai juru masak di komunitas tersebut.

Norma mengaku, proses memasak dan campuran bumbu kuliner itu awalnya ia tahu dari cerita kakek dan neneknya. Tapi untuk memulai memasak, ia belajar pada mertuanya.

“Saya memang bukan orang asli Ternate, tapi setelah dengar cerita, lalu menikah, saya mulai tertarik dengan cara masak tradisional orang Ternate zaman dulu, akhirnya saya belajar resepnya pada mertua saya,” cerita Norma.

Mama Imba, seorang perempuan paruh baya yang juga tergabung di komunitas ini menuturkan, rezeki membuka usaha kuliner lokal di tempat ini memang tak seberapa, tergantung pesanan orang.

“Tapi kami bahagia berada di komunitas ini,” ucap perempuan berusia 58 tahun tersebut dengan mata yang berkaca-kaca.

***

Di tungku dapur yang sederhana, api menyala seperti cinta, keringat mereka mengalir–mengena tanah rempah. Di raut wajah para perempuan hebat, ingatan tentang sejarah cengkih dan hebatnya kuliner tradisional menjadi begitu berharga juga tak ternilai.

Waktu telah menunjukkan 13.15, rangkaian kegiatan pun telah usai, sebagian peserta sedang belajar memukul tifa, kemudian menyanyikan beberapa lagu daerah, sebagiannya lagi sedang foto-foto sekadar mengabadikan momen tersebut, sesudahnya semua berkemas lalu peserta disilakan pulang ke rumahnya masing-masing.

Hujan sudah usai, tapi aromanya akan teringat terus.

___

Reporter: Andri R. Mansur

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

by halmaheranesia
MENU