Ternate, HN – Sebanyak 50 pedagang tukang jahit pakaian di pasar Gamalama, Kelurahan Gamalama, Ternate Tengah, Kota Ternate mengeluh adanya kebijakan kenaikan tarif retribusi oleh pemerintah kota.

Kebijakan kenaikan tarif itu rencana dinaikkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Ternate diangka dua kali lipat dari harga retribusi sebelumnya.

Mahmud Jakaria salah satu tukang jahit pakaian saat ditemui halmaheranesia, Senin, 6 Mei 2024 mengaku mendapat informasi bahwa akan dinaikkan tarif retribusi oleh Disperindag Ternate.

Ia mengatakan, rencana kenaikan itu belum ada sosialisasi dari pihak dinas ke pedagang setempat. Meski begitu, tetap dilakukan penolakan jika hal tersebut dilakukan.

“Tarif retribusi itu kan semula Rp 670 per bulan, untuk lantai satu, dan rencananya akan dinaikkan menjadi Rp 1.220. Sementara untuk lantai dua per bulan Rp 620 dan ingin dinaikkan menjadi Rp 1.080.000.

Ia menjelaskan, para pedagang telah membuat rapat dan bertemu dengan pemerintah, hasilnya akan dipertimbangkan. Namun, belum bisa diberikan jaminan terkait apakah masih tetap membayar retribusi seperti semula atau tetap naik.

“Kita sudah konsultasi ke dinas, tapi mereka belum kasih jaminan, katanya itu adalah perintah dari pimpinan, jadi mungkin itu perintah dari wali kota,” ujarnya.

Senada dengan pedang lain, Janani Ismail menambahkan bahwa kenaikan tarif retribusi itu merugikan para pedagang, sebab pendapatan para pedagang sangat berkurang.

“Pendapatan kami menurun, kalau bayar retribusi diangka itu kami merasa sangat rugi,” ujarnya.

Menurut dia, setalah pedagang tukang jahit dipindahkan ke pasar Gamalama, banyak masalah yang ditemukan, mulai dari akses masuk hingga kurangnya pelanggan.

“Jadi banya masalah, belum ditambah lagi dengan pedangang musiman yang diizinkan berjual di kawasan terminal,” pungkasnya.

 

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *