PADA akhir tahun 2023 setidaknya ada tiga penyair Maluku Utara yang menerbitkan antologi puisi. Pertama ada Munira (WDGafoer), kemudian Betapa Laut Adalah Kamu (Dino Umahuk), dan Ngoko Kudiho Talalu Susa (Zainudin M.Arie). Dapatkah kita sebut ini sebagai musim ‘pesta’ puisi maloku kie raha? Di antara kedua antologi puisi, saya baru baca karya WDGafoer. Namun dekat dengan karya puisi Dino Umahuk dan Zainuddin M. Arie. Jika ini adalah pesta apakah karya WDGafoer dapat serta dalam pesta itu?

Sebagai pemula yang menerbitkan karya puisi, saya pikir terlalu naif jika kita sandingkan WDGafoer dengan dua nama maestro di atas secara pengkaryaan. Tetapi Munira mampu keluar dari bentuk karya puisi yang bertebaran di Maluku Utara dan punya selera berbeda dalam bentuk dan isi jika diselami secara intrinsik maupun ekstrinsik.

Tema-tema puisi yang diusung WDGafoer lebih menonjol pada seputar cinta, kesunyian, spritualitas serta menimbang kembali budaya dan sejarah.
Simaklah puisi bertemakan cinta dan kesunyian yang berjudul Pada Peluk (hal.45):

Untuk peluk-pelukku nan piatu;
duh! Pada pintu mana lagi kan kau ketuk
sekedar duduk mengelus duka pohon aru
tak da lagi suara belatung

Kewajiban dari seorang penyair adalah peka terhadap kedalaman penghayatan akan rasa, menghidupkan obyek, lalu dijadikannya ornamen kata sebagai proses penciptaan ruang makna agar kita menemukan emosi estetik.

Pada situasi yang lain, saya menemukan setidaknya ada empat momen puitik di meja makan. Dari sinilah saya melihat perasaan cinta WDGafoer dalam dua makna yang berbeda. Pertama, ada hangatnya cinta yang sahaja, yang tumbuh dalam seisi rumah. Kedua, ada petualang liar di belantara cinta di sisi luar pagar rumah. Intensi ini bisa disimak dalam bait-bait Bermalam di Meja Makan:

Suara Ibu sedang hangat tergenang dalam gelas,
tak lama lagi sepiring keringat Ayah menetes di jalanan
menuju ruang tengah;
meja yang di bawahnya mengalir air susu
“Sudah! Sudah! Duduk,” kata Ayah,
“Saksikanlah anak-anak, sebentar lagi bunga-bunga mekar.”
malam anggun akan selalu memeluk jiwamu
masa depan akan terus bersolek lewat senyum benda-benda,
di atas meja-senyum-senyum harus kita cipta

WDGafoer mencoba terkadang bebas dalam menyusun struktur puisi yang tak ketat pada rima dengan penggunaan struktur empat baris. Ia cenderung menggunakan kalimat-kalimat panjang yang mengalir dan diksi yang menukik seperti Mati Bahagia yang amat liar:

Jika kau ingin mati bahagia, jika kau ingin hidup abadi;
Buatlah seorang penyair jatuh cinta lalu patahkan hatinya.
tapi penyair sulit jatuh cinta-ambigu-penyair jatuh pada
cintanya,
penyair cinta pada jatuhnya; penyair mencintai segala-galanya

Demikianlah seorang penyair yang mesti menampung cerita dari berbagai pengalaman hidup kemudian menghidupinya dengan pemaknaan yang berbeda.

Selain Munira direpresentasikan sebagai sosok ibu, ia bisa menjelma sebagai seorang kekasih, juga imajinasi keperempuanan pada umumnya. Dari sana menemukan sosok lain, sosok yang ‘sunyi’ dalam sejarah kepahlawanan nasional.

Di Liang Pipimu, Nukila!” (Hal.60)

Lalu sejarah puan-puan Meletus
dalam larik-larik yang menghujam, menentang
seperti Matha Cristina Tiahahu,
seperti Audre Lodre, seperti Seyla Benhabib,
Seperti Nukila!

Puisi bukan saja menghadirkan keindahan kata-kata namun sejarah dimana penyair itu tumbuh. Adapun kebudayaan berdenyut di jantung penyair yang terekam dalam Tiga Senar (Hal.97)

Tiga senar yang mulia
menggesek kulit lembut fiol
mesra menggelayut dalam gerak tangan sang tuan
menuntun sabda merasuki tubuh perawan manusia
kau dengar laut nyaring mendatangi dada sang kapita
tifa… tifa.. tifa… si polote tifa… berdentinglah!

Ternate, tempat kelahiran WDGafoer adalah negeri yang budaya spritualitas masyarakatnya tergabung dalam tarian dan Bahasa. WDGafoer memaknai denyut itu dalam puisi “Togal” (Hal.98)

Mari bernyanyi dalam derita
sebelum orang tua-tua berjalan pulang
menyisakan kitab dan sabda
betapa indah kalimat itu—
Ajali fo tuda-tuda
(Ajal kemana-mana kita bawa…)
Sone fo waro ua
(Kapan mati kita tak tahu…)

Nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah karya sastra adalah sesuatu yang bersifat subyektif, tergantung di belahan bumi mana, dan dalam struktur masyarakat macam apa ia dikandung. Karena subyektif, maka setiap orang, setiap kelompok, setiap masyarakat memiliki nilai-nilainya sendiri, tentu dengan ragam kekhasannya.

Tabik.

***

Penulis: Muhammad Idra Faudu | berasal dari Kepulauan Sula, Maluku Utara. Aktif menulis puisi di platform medium dan sesekali ikut mementaskan puisi bersama Rakyat Sastra dan juga komunitas Simpul Sastra Kabata Yogyakarta. Sejumlah karyannya tergabung dalam Antologi puisi “Tanah potong pusa”, bersama penyair Maluku/Maluku Utara.

Bagikan:

Idra Faudu

Muhammad Idra Faudu, berasal dari Kepulauan Sula, Maluku Utara. Aktif menulis puisi di platform medium dan sesekali ikut mementaskan puisi bersama Rakyat Sastra dan juga komunitas Simpul Sastra Kabata Yogyakarta. Sejumlah karyannya tergabung dalam Antologi puisi "Tanah potong pusa", bersama penyair Maluku/Maluku Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *