“Alam mencetak dirinya sendiri di atas kain.”

Kata-kata itu begitu magis dan penuh makna–keluar begitu saja dari lisan seorang perempuan disabilitas dari Ternate, Maluku Utara.

Perempuan itu sontak tak mampu menahan bulir air matanya di hadapan seluruh istri wali kota se-Indonesia saat diberi kesempatan berbagi cerita tentang perjalanan hidupnya.

Nurjanah, namanya. Perempuan pembuat kain batik dan aneka produk fashion ini memang tengah berbagi kisahnya pada salah satu rangkaian acara Sarasehan Istri Wali Kota se-Indonesia di Kota Ternate, Selasa, 3 Oktober 2023.

Ia penyandang disabilitas yang mulanya menekuni usaha kuliner pada 2013. Kala itu, bersama suaminya yang juga penyandang disabilitas mengelola usaha yang diberi nama UMKM Serba Usaha Ternate Local Product dengan produk olahan makanan dan minuman.

Namun, berselang waktu di tahun 2020, ia pun mencoba menggeluti bisnis fashion dengan label Mayana Ecoprint.

“Saya ingin, bukan hanya satu orang Nurjanah yang berdiri sebagai disabilitas pada UMKM lainnya. Namun, pada tahun-tahun berikutnya, ada seratus orang Nurjanah berdiri setara dengan orang-orang yang bukan difabel untuk bekerja bersama,” katanya.

Ia menuturkan, tidak gampang menjadi seorang disabilitas dan berdiri di hadapan banyak pejabat. Harus melalui proses dan usaha yang panjang dan jatuh bangun. Banyak rintangan, cibiran, dan masih banyak lagi proses yang panjang.

“Tapi ketika melalui proses itu dan saya jatuh, saya tidak pernah mengeluh, harus bangkit. Tetap berusaha, nggak tahu ya saya merasa tidak harus mengeluh atau merasa ada kendala, saya jalani saja,” ujarnya.

Bahkan ketika produknya mulai dikenal luas dan berkembang, banyak orang yang bertanya tentang usahanya. Terkesan tidak percaya, bahwa semua produk yang bermotif batik adalah buah tangan dari dirinya.

“Ada yang bilang, ini bikinnya di mana. Karena mungkin mereka memandang secara kasat mata, tidak mungkin seorang saya yang difabel ini bisa menghasilkan produk seperti ini. Karena yang mereka tahu itu ribet prosesnya, sebab harus scouring, mordan, kemudian dikukus sampai dua jam lalu ditunggu fiksasi selama tujuh hari kemudian baru bisa diproses,” katanya.

Selain bersama suami, ia juga memberikan pelatihan kepada pada rekan-rekan disabilitas. Lalu setelah terampil, mereka akan bekerja secara bersama-sama.

“Jadi memang agak sedikit sulit berkomunikasi dengan mereka, tapi karena saya berlatar belakang program keluarga harapan (PKH) kemudian saya pernah mengajar di sekolah luar biasa (SLB) jadi bahasa isyarat itu seperti bahasa sehari-hari bagi kami,” tuturnya.

Nurjanah menjelaskan, makna dari kata Mayana Ecoprint miliknya tidak terlepas dari alam dan lingkungan. Seperti mayana, yang masyarakat Maluku Utara mengetahuinya adalah tanaman atau daun, biasa dipakai sebagai obat tradisional.

Sementara ecoprint berasal dari kata eco atau ekosistem yang berarti lingkungan hayati atau alam, sementara print artinya cetak.

Teknik ecoprint sendiri tidak menggunakan alat seperti canting (alat seperti pena untuk membatik). Namun, memakai bahan yang terdapat di alam sekitar, seperti dedaunan yang menghasilkan warna alami.

Nurjanah memilih daun mayana sebagai motif utama karena memiliki nilai estetika jika berada di atas helai kain. Di samping itu, ada juga motif-motif lainnya yang menggambarkan kekayaan alam Maluku Utara, seperti daun pala, jati, balacai, pakis hutan, dan ketapang.

Adapun produk fashion yang diproduksi perempuan muda itu berbahan kain dan kulit yang dibuat menjadi tas, sepatu, jilbab, mukena, kaus, hingga tas jinjing. Dari sekian produk, yang terlaris adalah tempat air minum dan jilbab.

“Singkat itulah cara kami bekerja, kami berterima kasih juga kepada pemerintah karena peduli terhadap pelaku UMKM di Ternate dan juga ikut mempromosikan hasil produk yang dibuat,” pungkas Nurjanah, haru dan bangga.

Bagikan:

Iksan Muhamad

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *