Halteng, HN – Direktur Eksekutif Jaringan Pemantau Independen Kehutanan (JPIK) Maluku Utara (Malut), Julfikar Sangaji, meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Halmehera Tengah agar mempercepat investigasi kasus dugaan pencemaran sungai di Desa Sagea dan Kiya.

Munurut Julfikar, aliran sungai di Sagea tidak sekadar bentangan alam yang memiliki fungsi ekologis, namun lebih daripada itu merupakan sumber penghidupan warga saat ini serta generasi berikutnya.

“Sungai di Sagea ini merupakan salah satu sumber air minum warga, tapi sangat disayangkan bila tampak warna air telah berubah menjadi merah kecoklatan dari semula adalah bening,” ujar Julfikar, Kamis, 17 Agustus 2023.

Ia menjelaskan, di sisi lain sekarang ini sedang geliat-geliatnya operasi penambangan nikel yang berlangsung di balik kampung Sagea, karena itu patut diduga apabila fenomena perubahan air yang terjadi pada sungai Sagea adalah dampak dari aktivitas pertambangan.

“Peristiwa yang teranyar ini tidak bisa dilepaspisahkan dari aktivitas pembukaan bentangan hutan di wilayah hulu yang semakin masif oleh tambang,” ungkapnya.

Ia menambahkan, seperti pambabatan hutan di kawasan teresterial atau wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mengakibatkan terjadi erosi tanah dalam jumlah besar dan harus bergerak masuk ke badan sungai, lalu pada akhirnya air diduga terkontaminasi sedimentasi material ore nikel kemudian mengalir hingga ke pesisir laut.

Sekadar diketahui, sebelumnya baru-baru ini, pada 12-16 Agustus 2023, warna sungai di Desa Sagea dan Kiya, Kabupaten Halmahera Tengah, yang dikenal sebagai sumber air minum warga tampak berubah keruh kecoklatan. Video dan foto keruhnya sungai tersebut pun sempat beredar luas di media sosial.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *