Ternate, HN – Taekwondo Kie Raha Club (TKC) bakal mengikuti kejuaraan Indonesia Open Tournament di Kota Manado, Sulawesi Utara, pada 21-23 Juli 2023 mendatang.

Turnamen tahunan tersebut diikuti sekitar 20 klub yang berasal dari kota-kota besar di Indonesia, dan untuk TKC akan mengikutsertakan sebanyak 22 atlet.

Klub yang didirikan oleh Tiaramon Irawan itu kerap mengutus anak asuhnya untuk mengikuti ajang-ajang bergengsi.

Bahkan, atlet-atlet taekwondo di TKC kerap dilirik oleh Pemerintah Kota Ternate untuk menjadi perwakilan seperti pra PON.

Kendati begitu, Tiaramon sendiri mengaku bahwa klubnya sama sekali tidak pernah dibantu oleh pemerintah daerah.

Alhasil, para kontestan bersama orang tua harus rela membuat bazar demi membiayai selama kejuaraan berlangsung.

Dana yang diperoleh akan digunakan untuk pembiayaan, mulai dari transportasi angkutan laut, akomodasi, makanan, dan anggaran tak terduga lainnya selama di Manado nanti.

“Dari dulu ikut turnamen, TKC tidak pernah mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Ternate. Padahal anak-anak di TKC ini berprestasi dan pemerintah juga panggil anak-anak TKC untuk jadi perwakilan di pra PON,” kata Tiaramon, Selasa, 11 Juli 2023.

Kekecewaan itu pula disampaikan oleh salah satu orang tua yang anaknya juga akan mengikuti kejuaraan.

Ia menyebutkan, TKC mengirim anak-anak untuk mengikuti turnamen, tetapi kurang mendapat dukungan dari pemerintah. Padahal, meski nama klub yang dibawa, tetapi TKC tetap mengharumkan nama kota asal, yakni Ternate.

“Kita juga bikin proposal, tapi tetap saja keterbatasan dukungan. Padahal kalau TKC menang, pastinya harumkan nama Kota Ternate,” katanya.

Menurutnya, turnamen olehraga seperti ini harus didukung oleh pemerintah. Ajang seperti ini pula, merupakan pengembangan bakat anak. Apalagi, TKC memiliki banyak bibit-bibit atlet taekwondo yang pernah menjuarai kejuaraan.

“Kayak tahun lalu digelar di Tobelo itu TKC juara umum. Tapi waktu itu sama juga kayak sekarang, kita orang tua dan anak-anak semua bikin bazar untuk biaya,” ujarnya.

Ia berharap, Pemkot Ternate bisa lebih memperhatikan bakat dan prestasi dari bidang olahraga.

“Ya mungkin saja pemerintah lebih senang berpartisipasi pada event musik dan goyang-goyang di atas panggung, ketimbang para atlet muda yang bisa membanggakan nama Kota Ternate,” ungkapnya.

Terpisah, Ketua KONI Ternate, Ghifari Bopeng, saat dikonfirmasi mengatakan yang namanya komunitas, klub ataupun dojan itu ada di bawah cabor sehingga jalur koordinasi harus melalui cabor terkait. Setelah itu, barulah cabor berkoordinasi dengan KONI.

“Kalau sekarang klub itu langsung ke KONI, otomatis kewenangan cabor itu tidak ada. Sedangkan yang punya atlet itu cabor, dan KONI memiliki cabor. Atlet itu di bawah cabor. Jadi KONI tidak punya atlet,” ucap Ghifari.

Namun yang kerap terjadi sekarang ini, kata Ghifari, klub sering berkomunikasi langsung ke KONI. Sehingga dalam proses pembinaan, cabor pun tidak pernah tahu.

“Takutnya KONI bisa disebut intervensi karena tidak melalui cabor. Jadi saya tidak mau kondisinya itu seperti dulu-dulu lagi,” jelasnya.

Ghifari lantas meminta, semua klub olahraga di Ternate harus memiliki legalitas hukum.

“Minimal mereka punya akta klub, rekening klub, status klub seperti apa, sehingga atlet-atlet ini betul di bawah pembinaan cabor dan KONI,” jelasnya.

Walau begitu, Ghifari mengaku, akan mengakomodir para atlet yang akan mengikuti turnamen. Apalagi membawa nama daerah. Tetapi, klub atau dojan tentu harus berkoordinasi dengan cabor.

Ia juga menegaskan kepada cabor-cabor, agar tidak pilih kasih kepada klub olahraga. Cabor harus melihat juga klub-klub yang betul-betul memiliki semangat dalam membina atlet.

“Pada prinsipnya saya akan bantu klub yang akan ikut kejuaraan, tetapi harus berkoordinasi dulu dengan cabor. Cabor juga harus objektif. Dan dojan-dojan juga harus hargai para cabor-cabor. Besok saya akan panggil cabor-cabor dalam rangka penataan jalur koordinasi klub-klub,” pungkasnya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *