Ternate, HN – Pria itu bernama Kustalani Syakir. Kesehariannya bekerja sebagai perajin Batik Tubo.  Siang itu, Kustalani tampak tengah duduk menanti pelanggan untuk membeli batik khas Ternate yang dibuatnya.

Tim halmaheranesia menemui Kustalani pada Jumat, 5 Mei 2023 di Kelurahan Santiong, Ternate Tengah, Kota Ternate.

Batik Tubo yang ia kerjakan sejak 2009 ini merupakan hasil karya sendiri tanpa ada bantuan dari pemerintah.

Kustalani menceritakan, sudah sejak lama bersama istri, Mirawati (45 tahun), bekerja sebagai perajin Batik Tubo. Bahkan saat ini sudah mempekerjakan beberapa orang untuk membantunya.

Keterampilan membuat Batik Tubo ia belajar saat masih bekerja sebagai perajin batik di Pulau Jawa. Saat ini, hanya tinggal beberapa orang yang masih melakoni usaha batik ini. Namun, untuk cara pembuatan yang lainnya sudah menggunakan mesin pencetak, sementara ia masih bertahan dengan alat tradisional.

Ia mengaku, untuk menghasilkan sebuah kain dengan panjang empat meter dan lebar satu meter, membutuhkan waktu hingga dua pekan hingga satu bulan. Apalagi kalau ada yang pesan untuk dibuat banyak, maka membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Untuk pendapatannya tergantung pembeli. Biasanya ada pesanan yang datang dari Jakarta. Kemarin dari Palembang yang pesan, mereka menyuruh kita buat banyak, dengan harga yang variasi. Soalnya bukan hanya kain saja yang dipesan, tapi ada sal dalam bentuk motif, dan itu keuntungannya lumayan bagus,” jelasnya.

Ia menjelaskan, semenjak bekerja menjadi perajin Batik Tubo, ia seringkali berpindah tempat. Bersama istri, awalnya membuka usaha tersebut di Kelurahan Tubo, namun tak lama mereka pindah di Kelurahan Batu Anteru, setelah itu Kelurahan Kampung Makasar, dan tidak lama pindah lagi di Santiong.

“Jadi alhamdulillah kita masih menetap di sini dan kita sudah bisa gaji orang untuk membantu bekerja. Ya, hitung-hitung kita sudah bisa membuka lapangan kerja untuk orang lain, walaupun masih sederhana dan masih banyak keterbatasan,” ungkapnya.

Sementara itu, terkait bantuan, Batik Tubo miliknya sempat masuk dalam UMKM yang dibina PT Pertamina. Jadi, kadang diberikan bantuan berupa kain dan kebutuhan lain. Soalnya, jika ingin mendapat kain, maka harus memesannya di Jawa dan itu tergolong mahal, bahkan membutuhkan waktu yang lama.

“Tapi sekarang, menjadi UMKM binaan PT Pertamina sudah berakhir. Kita kerja sendiri lagi tanpa ada bantuan yang lain. Sebab, kita tidak bisa berharap banyak ke pemerintah, karena sejak 2009 hingga saat ini, pemerintah dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Ternate tidak pernah memberikan bantuan,” ujarnya.

Bahkan, pihaknya merasa pemerintah saat ini tidak peduli dengan usaha-usaha kecil seperti yang dilakoni dirinya. Padahal, yang masih melestarikan batik khas daerah hanya beberapa usaha saja.

“Kita juga tidak butuh, tapi yang namanya pemerintah ya harus perhatikan masyarakatnya. Apalagi ada usaha-usaha seperti ini. Sehingga, bisa bersaing dengan yang lain,” jelasnya.

Ia menyebutkan, untuk sistem penjualannya tergantung pada motif kain atau batiknya.

“Kain itu kita jual dengan harga bervariasi, ada yang Rp 250 ribu, ada Rp 300 ribu bahkan sampai Rp 1 Juta, itu hanya kain, sementara untuk sal yang bentuk cengkeh dan pala kemudian burung goheba, kita jual di harga Rp 150 ribu,” jelasnya.

Bagikan:

Iksan Muhamad

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *