Ternate, HN – Saat itu, matahari terik mulai miring ke barat. Cahayanya menikam tubuh renta Hamida (59 tahun), yang terlihat seorang diri menjajakan jualan di kawasan belakang Jatiland Mall, Ternate, Maluku Utara.

Perempuan asal Rum, Tidore Kepulauan ini adalah penjual sayur-mayur yang tengah terancam dipindahkan oleh Pemerintah Kota Ternate. Lokasi yang ditempati Hamida rencananya akan ditata untuk kawasan kuliner.

Relokasi pedagang sayur-mayur di kawasan ini akan dilakukan dalam waktu dekat. Kebijakan ini membuat hati Hamida tak karuan, gelisah memikirkan nasibnya. Bagaimana tidak, ini sudah tahun ke-10, ia bertarung hidup dengan berjualan seperti ini.

Hamida kepada kru halmaheranesia berkisah, setiap pagi ia dan rekan-rekan pedagangnya harus berpindah tempat berdagang, karena belum ada tempat yang pasti untuk jualan.

“Kita kalau sudah hampir pagi sudah harus di sini, kalau tidak maka tidak dapat tempat untuk jualan,” kata Hamida, Kamis, 25 Agustus 2022.

Ia mengaku, para pedagang yang berada di kawasan ini banyak berasal dari luar Ternate. Selain berjualan, ada juga yang datang sekadar mengantar barang dagangannya dan dijual oleh pedagang lainnya.

“Banyak dari Pulau Halmahera, ada juga orang sini tapi karena belum punya tempat maka memilih berjualan di sini,” ucapnya.

Ia mengatakan, sayur-mayur yang ia jual bukan miliknya. Ia hanya mengambil barang jualan dari pedagang lain yang memiliki tempat di dalam pasar.

“Pendapatan setiap hari itu tidak seberapa. Biasanya paling tinggi hanya Rp 200 ribu, kadang juga hanya Rp 100 ribu. Dari pendapatan ini saya kasih ke pemilik barang lagi, jadi nanti bagi dua hasilnya,” tuturnya.

Ia menjelaskan, setelah jualan dari pagi hingga sore hari, selanjutnya harus bergegas langsung pulang ke Tidore, karena saat ini belum ada tempat tinggal yang tetap di Ternate.

“Kalau sudah lelah saya pulang istirahat di kosannya anak saya, itu di Kelurahan Sasa, Ternate Selatan. Kebetulan anak saya kuliah di kampus UMMU,” katanya.

Hamida mengaku, dirinya selama 10 tahun hanya berdagang sendirian. Sang suami sudah meninggal saat ia masih berdagang di Tidore. Bahkan, kata dia, biaya sekolah anaknya pun bergantung pada hasil jualannya.

“Kita bersyukur karena masih diberikan kesehatan, walaupun sudah tua tapi masih bisa berjualan, jadi kalau sehari pendapatannya demikian torang (kami) syukuri saja,” jelasnya.

Mengenai kebijakan penataan kota, tentu membuat Hamida merasa resah. Apalagi kawasan inilah yang membuat ia tetap semangat mengais rezeki.

“Kita resah kalau dipindahkan, karena kalau pindah kita jualan di mana, tidak mungkin jualan di dalam, itu harus bayar tempat lagi, setiap hari juga harus bayar retribusi,” ungkapnya.

Ia berharap, pemerintah jika ingin menertibkan area ini, maka harus menyediakan tempat bagi pedagang yang ada di kawasan ini.

“Pemerintah harus sosialisasi dulu kalau mau kase tertib pa torang, karena tidak mungkin pindah di Kota Baru atau masuk di tempat jualan secara sembarangan, apalagi saat ini banyak pedagang tidak mendapatkan tempat jualan yang tetap,” pungkas Hamida.

Bagikan:

Iksan Muhamad

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *