Sofifi, HN – Pemerintah diminta untuk turun campur tangan atau ikut mengontrol tingginya harga ikan saat ini, terutama di wilayah pasar ikan Galala, Sofifi, dan Tidore Kepulauan.

Gufran menyebut ada keluhan dari warga sekitar Sofifi, bahwa terdapat tiga varian ikan yang harga ecerannya dianggap tidak normal, bila dibandingkan harga jual sebelum pelaksanaan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ).

“Keluhan warga ke kami ikan mahal, mereka bilang harga ikan ini tidak mau turun di pasar, naiknya itu saat menjelang STQ sampai sekarang ini,” kata Gufran, Rabu, 24 November 2021.

Saat ini, katanya, setelah mereka melakukan cek lapangan, ditemukan harga eceran ikan untuk jenis cakalang biasanya yang dijual Rp 20.000 per ekor sekarang menjadi Rp 30.000 sampai Rp 40.000 per ekor.

Begitu juga dengan ikan jenis tongkol atau komo dan ikan layang atau sorihi, yang diecerkan 4 ekor (ukuran kecil) dipasang dengan harga Rp 50.000, sebelum itu bisa didapatkan dengan harga Rp 20.000 – Rp 25.000.

Ia lantas meminta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) juga dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi serta pemerintah Kota Tidore Kepulauan termasuk Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk melakukan kontrol harga.

“Masyakarat resah karena dampak pandemi masih dirasakan, kita tahu bersama soal pendapatan warga yang masih cenderung belum pulih. Makanya operasi pasar harus dilaksanakan untuk mengendalikan harga ikan ini,” jelasnya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *