Kalau ditanya apa yang paling kita rindukan dari suasana bulan ramadan, maka banyak jawaban yang bisa kita berikan, seperti suasana berburu takjil, berbuka puasa, hingga sahur bersama keluarga. Namun, satu lagi yang tak boleh dilewatkan adalah gendang sahur.

Gendang sahur adalah nyanyian yang dirindukan saat tiba bulan ramadan. Kendati bagi beberapa orang terasa mengganggu karena terlalu sering didatangi para pemain gendang sahur, tentu tidak dengan kebanyakan orang.

Pendengar maupun pelaku gendang sahur juga punya kenangan masing-masing soal ramadan. Bagi pendengar, mereka akan merindukan lagu-lagu kasidah bertema puasa, atau saat makan sahur lalu lagu-lagu itu menembus sampai ke meja makan, atau sekadar mendengar dari jauh.

Sementara bagi pelaku gendang sahur, barangkali kenangan unik soal kesibukan memasang kabel listrik di teras rumah, kesulitan mengakses terminal lampu, atau terlalu sering tak dibukakan pintu meski sehari sebelumnya sudah menyurat lebih dulu.

Ingatan soal gendang sahur bagi orang Maluku Utara adalah ingatan yang paling membekas. Sejak kecil hingga besar nan tua, suasana ramadan seolah tak bisa dilepaskan dari lagu-lagu kasidah yang dinyanyikan dari para pelantun.

Era 2000-an, untuk Ternate dan daerah sekitarnya, seingat penulis, selain kasidah, lagu-lagu religi dari grup band papan atas pun kerap mewarnai suasana gendang sahur. Formasi gendang sahur yang biasanya hanya diisi dengan beduk, gitar, ‘tam-tam’, organ keyboard, pun mulai meluas hingga penggunaan drum.

Gendang sahur memang alarm sekaligus hiburan saat masuk waktu-waktu sahur. Di Maluku Utara, biasanya pelaku gendang sahur sudah mulai berjalan sejak pukul 02.30 hingga jelang imsak pukul 04.30.

Belakangan, formasi dan bentuk-bentuk kelompok gendang sahur semakin bervariasi. Penulis juga kadang merasa bingung, ketika ada kelompok yang hanya datang di rumah dengan membawa lengkap sound system, tapi hanya diputar manual. Tak ada pemain musik. Tak ada atraksi apa-apa. Sungguh, tak ada bedanya dengan memutar musik sendiri di rumah.

Sekarang pandemi Corona belum berakhir. Sepertinya suasana gendang sahur bakal tak punya tempat lagi. Dengan alasan kerumunan dan protokol kesehatan, kita akan kehilangan banyak momentum dan kenangan ramadan yang identik dengan kebersamaan dan silaturahmi.

 

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *